Selasa, 16 Januari 2024

Menelusuri Jejak Sejarah Kartun Pertama di Dunia: Dari Sketsa ke Layar Kaca

Kartun dalam pikiran kita mungkin hanya sebatas tontonan anak-anak belaka. Tapi sebenarnya kartun tidak hanya milik anak-anak. Ada banyak orang yang memanfaatkan kartun lebih dari sekadar tontonan anak-anak. Ada banyak cerita di balik sejarah kartun di dunia yang perlu kita ketahui.

Kartun,  sebagai bentuk seni visual yang seringkali menghibur dan menginspirasi, memiliki sejarah yang panjang dan menarik. Bagaimana kartun pertama di dunia muncul dan berkembang? Mari kita telusuri jejak sejarahnya, dari titik awalnya hingga menjadi bagian penting dari budaya populer saat ini.

1. Sketsa dan Ilustrasi Awal

Sebelum adanya teknologi seperti yang kita kenal sekarang, manusia telah lama menggunakan gambar dan sketsa untuk menyampaikan cerita. Dalam bentuk primitif, ilustrasi ilahi Mesir Kuno dan lukisan dinding Romawi kuno dapat dianggap sebagai bentuk awal dari representasi visual naratif.

2. Roda Gambar di Abad Pertengahan

Pada Abad Pertengahan, buku-buku bergambar dan fresko gereja menyediakan narasi visual untuk mereka yang tidak bisa membaca. Pada saat ini, elemen-elemen kartun mulai muncul dalam bentuk roda gambar (carousel) yang menggambarkan cerita-cerita moral atau agama.

3. Pembuatan Buku Bergambar di Era Renaissance

Pada abad ke-15, dengan berkembangnya cetakan dan pencetakan buku, buku bergambar mulai populer di kalangan masyarakat Eropa. Buku bergambar ini membawa cerita-cerita populer pada masa itu dengan ilustrasi yang lebih rumit dan detail.

4. Perkembangan Komik di Abad ke-19

Pada abad ke-19, kartun semakin memasuki domain komik strip di surat kabar dan majalah. Kartunis terkenal seperti Rodolphe Töpffer dari Swiss dianggap sebagai salah satu pelopor komik dengan karyanya "Histoire de M. Vieux Bois" pada tahun 1837.

5. Kelahiran Komik Strip Modern

Pada awal abad ke-20, kartunis seperti Winsor McCay menciptakan karakter-karakter terkenal seperti "Little Nemo in Slumberland" yang menggambarkan dunia imajinatif dengan teknik gambar yang canggih.

6. Era Kartun Animasi

Tahun 1928 menjadi titik balik penting dengan munculnya Mickey Mouse, karakter kartun animasi pertama yang diperkenalkan oleh Walt Disney dalam film "Steamboat Willie". Keberhasilan Mickey Mouse membuka pintu bagi era kartun animasi, dengan karakter-karakter seperti Bugs Bunny, Donald Duck, dan Popeye yang menyusul.

7. Era Modern dan Kartun Digital

Dengan berkembangnya teknologi komputer, kartun menjadi semakin terkait dengan animasi digital. Film-film animasi seperti "Toy Story" pada tahun 1995 membuktikan bahwa kartun tidak lagi terbatas pada kertas atau layar televisi, tetapi dapat hidup dalam dunia digital

Sejak kelahirannya sebagai gambar-gambar primitif hingga menjadi animasi digital yang canggih, kartun telah mengalami evolusi yang luar biasa. Dari sketsa sederhana hingga film animasi blockbuster, kartun tetap menjadi medium ekspresi yang mendalam dan menghibur, terus mengisi lembaran sejarah seni dan hiburan dunia. (Syerif Nurhakim)

Different doodle man characters on white background


Selasa, 13 Juni 2023

TIGA KISAH HUMOR TERKENAL TOKOH ABU NAWAS

Kisah Abu Nawas adalah cerita-cerita lucu yang melibatkan tokoh Abu Nawas, seorang tokoh humor dan cerdik dalam sastra dan tradisi lisan Timur Tengah, terutama dalam kisah-kisah Arab dan Persia. Abu Nawas dikenal karena kecerdasan, kejenakaannya, dan kemampuannya untuk menggambarkan kejadian sehari-hari dengan cara yang kreatif dan humoris.


Beberapa contoh kisah-kisah Abu Nawas yang terkenal termasuk:

  1. Menimbun Batu: Dalam cerita ini, Abu Nawas berpura-pura menimbun batu-batu di depan rumahnya setiap malam. Ketika seseorang bertanya kepadanya alasan di balik tindakannya, ia menjawab bahwa dia menyimpan batu-batu tersebut sebagai 'harta karun'. Orang tersebut kemudian bertanya mengapa Abu Nawas tidak memindahkan batu-batu tersebut ke dalam rumah, dan Abu Nawas dengan cerdik menjawab, "Oh, saya belum mencuri kunci pintu!"
  2. Kebohongan Abu Nawas: Abu Nawas sering kali menggunakan kebohongan untuk menguji kecerdasan orang lain. Dalam salah satu ceritanya, ia meyakinkan seorang saudagar yang ceroboh bahwa ia memiliki bibit tanaman yang bisa tumbuh menjadi pohon emas. Ketika saudagar itu membelinya dengan harga yang tinggi, Abu Nawas menjawab, "Bibit tersebut membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh, jadi jual kembali padaku di masa depan." Tentu saja, ketika saudagar itu menyadari kebohongan Abu Nawas, ia tidak dapat menemukan kembali si penipu.
  3. Abu Nawas dan Kesalahan Penguasa: Dalam cerita ini, Abu Nawas dengan cerdik mengekspos kesalahan dan kelemahan penguasa. Dalam salah satu kejadian, penguasa memutuskan untuk menyimpan semua uang dalam bentuk koin emas. Abu Nawas meminta izin untuk memperbaiki sol sepatu penguasa. Namun, saat memperbaikinya, Abu Nawas sengaja memasukkan sejumlah koin emas ke dalam sol sepatu itu. Ketika penguasa menyadari kehilangan uangnya, Abu Nawas dengan bijak menunjukkan bahwa jika uang diinjak-injak dan diabaikan, maka akan hilang.

Kisah-kisah Abu Nawas memberikan hiburan dan pelajaran dengan menggabungkan humor, kecerdasan, dan pandangan kritis terhadap kehidupan. Mereka sering kali menggambarkan kesalahan manusia, menyindir penguasa yang sombong, dan menyoroti kebodohan atau kekhilafan individu. Kisah-kisah ini menjadi bagian penting dari warisan sastra Timur Tengah dan masih populer hingga saat ini.







Kamis, 30 Desember 2021

Kisah Abu Nawas: TOLONG PENJARAKAN ANGIN!

Kepandaian Abu Nawas tak perlu ditanyakan lagi. Tapi kali ini ia kaget bukan main. Abu Nawas saat itu sedang santai di rumahnya, tiba-tiba datanglah utusan sang Raja kepadanya agar dirinya segera menghadap ke istana. Dan tentu saja, Abu Nawas dibikin penasaran dengan maksud raja yang tidak dijelaskan sebelumnya. Abu Nawas pun memenuhi perintah tersebut. Sepanjang perjalanan, ia bingung dan terus memikirkan teka-teki apalagi yang akan diberikan baginda raja kepadanya. Jangan-jangan, sang raja ingin membuat perhitungan atau mengirimkan dia ke penjara.


Setelah sampai  di kerajaan, Abu Nawas disambut hangat dengan senyuman baginda raja. Kemudian ia pun bertanya, “Ada apa gerangan wahai baginda raja memanggil saya ke istana?"
Kemudian raja pun menjawab, “Akhir-akhir ini aku mengalami gangguan perut. Tabib kerajaanku mengatakan bahwa aku terkena serangan angin."
“Lalu apa yang bisa saya bantu wahai baginda raja?” tanya Abu Nawas
“Tangkaplah angin itu dan penjarakan dia. Buktikan bahwa kamu memang cerdik.”
Abu Nawas terdiam, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Ia pun pergi seraya memikirkan bagaimana cara menangkap angin yang wujudnya pun tak terlihat. Abu Nawas hanya diberikan waktu tiga hari untuk menyelesaikan perintah tersebut. 


Singkat cerita, sudah berlalu dua hari sejak perintah itu diberikan. Abu Nawas belum menemukan cara yang tepat untuk menyelesaikan perintah raja.
Jika ia mampu menyelesaikan perintah raja, ia bisa mendapatkan imbalan atau hadiah. Dan hadiah itu bisa digunakannya untuk beramal dan membantu orang miskin.
Sampai akhirnya tiba di hari terakhir, tapi Abu Nawas masih belum menemukan cara yang tepat untuk menangkap angin. Di tengah perjalanan, ia teringat akan Aladin dan lampu wasiatnya.
Sama halnya dengan angin, jin pun tidak terlihat. Ia pun memiliki id, kemudian kembali ke rumah dan menyiapkan segala sesuatu untuk menuju istana.


Sesampainya di istana, ia dipersilakan masuk oleh prajurit kerajaan. Raja yang sudah menunggu kedatangan Abu Nawas pun menanyakannya.
“Berhasilkah kau memenjarakan angin, wahai Abu Nawas?”
“Sudah baginda raja” jawab Abu Nawas seraya menyerahkan botol yang sudah disumbat olehnya kepada raja. Raja pun melihat botol itu dengan heran.
“Mana angin tersebut hai Abu Nawas?”
“Di dalam botol tersebut baginda. Engkau tidak bisa melihatnya, namun kau dapat merasakannya. Bukalah sumbatan botol tersebut untuk merasakan anginnya,” kata Abu Nawas menjelaskan.
Baginda raja pun membuka sumbatan botolnya dan ia mencium aroma busuk dari botol tersebut.
“Bau apa ini?” tanya baginda raja.
“Ampun tuanku yang mulia, tadi hamba buang angin dan memasukannya ke dalam botol. Hamba khawatir angin tersebut akan keluar, sehingga hamba memenjarakannya di dalam botol,” jawab Abu Nawas ketakutan.
Tetapi Baginda tidak jadi marah karena penjelasan Abu Nawas memang masuk akal.
"Heheheheh kau memang pintar Abu Nawas."
"Tapi Baginda,” sela Abu Nawas
"Ya, Abu Nawas!"
"Hamba sebenarnya cukup pusing memikirkan bagaimana melaksanakan tugas memenjarakan angin ini."
"Lalu apa maksudmu Abu Nawas?"
"Hamba minta ganti rugi."
"Kau hendak memeras seorang raja?"
"Oh, bukan begitu baginda."
"Lalu apa maumu?"
"Baginda harus memberi saya hadiah berupa uang untuk belanja dalam satu bulan."
"Kalau tidak?" tantang baginda.
"Kalau tidak, hamba akan menceritakan kepada khalayak bahwa baginda telah sengaja mencium kentut hamba!"
"Hah?" baginda kaget dan jengkel tapi kemudian tertawa terpingkal-pingkal.
"Baik permintaanmu kukabulkan!"
(Tamat, deh...)

Kisah Abu Nawas: MENJUAL RAJA UNTUK DIJADIKAN BUDAK

Abu Nawas selalu punya cara untuk membuat sang Raja mati kutu. Kali ini, Abu Nawas ingin sedikit memberikan pelajaran bagi sang Raja bagaimana rasanya menjadi rakyat jelata seperti dirinya.

Suatu hari, bermodal ide gila dan beberapa keping uang emas Abu Nawas menyusun rencana untuk sang Raja. Rupanya ini bukan tanpa maksud. Tujuannya salah satunya agar raja bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa masih banyak di antara rakyatnya yang hidup sengsara, salah satunya banyaknya praktek jual beli budak di kota.


Rencana di luar nalar itu pun berlanjut. Abu Nawas berencana akan menjual baginda raja. Menurut Abu Nawas, hanya baginda raja saja yang paling patut untuk dijual. Wah, benar-benar gila! Gimana caranya? Bukan Abu Nawas namanya kalau gak bisa menemukan cara jenius. Menurutnya selama ini, hanya baginda raja yang selalu menyengsarakan pikirannya. Sekarang, sudah sepatutnya giliran Abu Nawas yang mengeprank baginda. 


Singkat cerita, Abu Nawas menghadap dan berkata kepada Baginda Raja Harun Al-Rasyid.
“Ada sesuatu menarik yang akan hamba sampaikan hanya kepada paduka yang mulia.”
“Apa itu wahai Abu Nawas?” tanya baginda penasaran.
“Sesuatu yang hamba yakin belum pernah terlintas di dalam benak paduka yang mulia,” kata Abu Nawas meyakinkan.
“Kalau begitu, cepatlah ajak aku ke sana untuk menyaksikannya," kata baginda raja tanpa rasa curiga sedikitpun.
“Tetapi baginda…” kata Abu Nawas sengaja tidak melanjutkan kalimatnya.
“Tetapi apa?” tanya baginda tidak sabar.
“Bila baginda tidak menyamar sebagai rakyat biasa, pastinya orang-orang akan banyak yang ikut menyaksikan benda ajaib itu,” terang Abu Nawas.
Karena rasa penasaran baginda sangat besar, maka beliau bersedia menyamar sebagai rakyat biasa seperti yang diusulkan Abu Nawas.


Akhirnya, Abu Nawas dan Baginda Raja Harun Al-Rasyid yang menyamar sebagai rakyat biasa berangkat menuju ke sebuah hutan.

Setibanya di hutan, Abu Nawas mengajak baginda raja mendekati sebuah pohon rindang dan memohon kepada baginda raja untuk menunggu di situ. Sementara itu Abu Nawas menemui seorang badui yang pekerjaannya menjual budak. 


Abu Nawas mengajak pedagang budak itu untuk melihat calon budak yang akan dijual kepadanya dari jarak yang agak jauh. Ia beralasan bahwa sebenarnya calon budak itu adalah teman dekatnya. Karena Abu Nawas tidak tega menjualnya di depan mata.


Setelah pedagang budak itu memperhatikan dari kejauhan, ia merasa cocok. Abu Nawas lalu membuatkan surat kuasa yang menyatakan bahwa pedagang budak sekarang mempunyai hak penuh atas diri orang yang sedang duduk di bawah pohon rindang itu. Abu Nawas pergi begitu menerima beberapa keping uang emas dari pedagang budak itu.


Baginda raja masih menunggu Abu Nawas di bawah pohon tersebut. Ketika pedagang budak menghampirinya, ia belum tahu mengapa Abu Nawas belum juga menampakkan batang hidungnya. Baginda juga merasa heran mengapa ada orang lain yang datang menghampirinya.
“Siapa engkau?” tanya baginda raja kepada pedagang budak.


“Aku adalah tuanmu sekarang," kata pedagang budak itu sedikit kasar.
Tentu saja pedagang budak itu tidak mengenali bahwa orang tersebut merupakan Baginda Raja Harun Al-Rasyid karena mengenakan pakaian yang amat sederhana.


“Apa maksud perkataanmu tadi?” tanya baginda raja dengan wajah merah padam.
“Abu Nawas telah menjual engkau kepadaku dan inilah surat kuasa yang baru dibuatnya," kata pedagang budak dengan nada tinggi.


“Abu Nawas menjual diriku kepadamu?” kata baginda makin murka.
“Ya!” bentak pedagang budak.
“Tahukah engkau siapa aku ini sebenarnya?” tanya baginda geram.
“Tidak dan itu tidak perlu," kata pedagang budak seenaknya. Lalu ia menyeret budak barunya ke belakang rumah. Sultan Harun Al-Rasyid diberi parang dan diperintahkan untuk membelah kayu.


Begitu banyak tumpukan kayu di belakang rumah badui itu, sehingga melihatnya saja sudah membuat Sultan Harun Al-Rasyid merasa ngeri, terlebih jika harus mengerjakannya.
“Ayo kerjakan!” bentak pedagang budak.


Sultan Harun Al-Rasyid mencoba memegang kayu dan mencoba membelahnya, namun si badui melihat cara Sultan Harun Al Rasyid memegang parang merasa aneh.
“Kau ini bagaimana, bagian parang yang tumpul kau arahkan ke kayu, sungguh bodoh sekali!” jelas pedagang budak dengan nada yang semakin tinggi.


Sultan Harun Al-Rasyid kemudian mencoba membalik parang hingga bagian yang tajam terarah ke kayu. la mencoba membelah namun tetap saja pekerjaannya terasa aneh dan kaku bagi si badui.


“Oh, beginikah derita orang-orang miskin mencari sesuap nasi, harus bekerja keras lebih dahulu. Wah lama-lama aku tak tahan juga," gumam Sultan Harun Al Rasyid.


Si badui menatap Sultan Harun Al-Rasyid dengan pandangan heran dan lama-lama menjadi marah. la merasa rugi setelah membeli budak yang bodoh itu.
“Hai badui! Cukup, semua ini aku sudah tidak tahan,"
“Kurang ajar ya. Kau ini budakku dan harus patuh kepadaku!” kata badui itu sembari memukul baginda. Tentu saja raja yang tak pernah diperlakukan kasar itu menjerit keras saat dipukul kayu.


“Hai badui! Aku adalah rajamu, Sultan Harun Al-Rasyid,” kata Baginda sambil menunjukkan tanda kerajaannya.

Tentu saja si pedagang budak itu kaget bukan main mulai mengenal baginda raja. la pun langsung menjatuhkan diri sembari berlutut di hadapan baginda. Baginda Raja mengampuni pedagang budak itu karena ia memang tidak tahu. Tetapi kepada Abu Nawas, baginda raja amat murka dan geram. Rasanya ingin sekali membuat perhitungan kepada Abu Nawas, Kalau perlu mengunyeng-unyeng kepalanya sampai puyeng. Dasar Abu Nawas! Raja saja bisa kena prank (tamat)

Rabu, 29 Desember 2021

Kisah Abu Nawas: TEKA-TEKI PEMBAGIAN KAMBING

Kisah Abu Nawas memang selalu mengundang tawa dan juga kening mengkerut. Salah satunya kisah berikut ini  contohnya. Silahkan saja kalian simak ya...

Suatu hari di istana Sultan Harun al Rasyid menerima tiga orang tamu dari desa. Saat tamu itu datang, Sultan Harun al Rasyid sedang berkumpul dengan para pejabat tinggi, langsung saja mempersilakan ketiga orang itu untuk masuk dan mengutarakan maksud dan tujuannya.


Setelah tiga orang itu membungkuk, salah seorang di antara mereka berkata, "Ampun beribu ampun baginda, karena kami telah mengganggu perbincangan baginda dengan para pejabat yang lain."
"Tidak, kalian tidak mengganggu. Kami malah senang dengan kedatangan kalian. Memangnya ada apa kalian menghadapku? Adakah persoalan yang ingin kalian sampaikan?"


"Begini baginda, saya, Ahmad, mempunyai dua ekor kambing betina, Zulfikar mempunyai seekor kambing jantan, sedangkan Zubair tidak mempunyai kambing. Karena itulah Zubair yang setiap hari harus bekerja menggembalakan kambing. Apabila ketiga kambing itu beranak pinak, maka pembagian keuntungannya juga telah kami sepakati, yakni saya mendapat separuh dari jumlah kambing, Zulfikar memperoleh sepertiga dari jumlah kambing, sedangkan Zubair yang menggembala dan merawat yang mendapat bagian seperdelapannya," terang Ahmad.


"Lantas apakah kambing itu sekarang telah beranak-pinak?" tanya Baginda.
"Benar baginda, ketiga kambing itu sekarang sudah berjumlah menjadi 23 ekor. Karena itu, kami sekarang ingin membaginya sesuai dengan kesepakatan kami dulu. Tapi ternyata kami kesulitan untuk membaginya. Karena itulah kami ke sini ingin memohon pertolongan baginda," terang Ahmad.
Membagi 23 ekor kambing sesuai perjanjian tentu tidak mudah. Bayangkan, bila Ahmad memperoleh pembagian separuh dari kambing-kambing itu, maka Ahmad sebenarnya mendapat bagian sebelas ekor lebih setengah kambing. Sedangkan Zulfikar memperoleh pembagian sepertiga seharusnya mendapatkan tujuh ekor lebih dua per tiga kambing. Sementara Zubair mendapatkan seperdelapannya yang berarti dua ekor kambing lebih tujuh per delapan kambing.


Harun al Rasyid tampaknya berpikir keras untuk memecahkan masalah tersebut. Bahkan para pejabat yang hadir di tempat tersebut juga tak sanggup memecahkan masalah tersebut. Karena orang yang hadir di tempat tersebut tak ada yang bisa memecahkan masalah itu, akhirnya Harun al Rasyid terpikir untuk mengundang Abu Nawas yang cerdik untuk ke istana.


Setelah Abu Nawas sampai di istana, ia pun langsung bertanya masalah yang terjadi. Mereka bertiga kemudian menceritakan ulang kronologi kebingungan tersebut.
"Wah..., itu masalah kecil, baginda. Insya Allah saya akan membantu mencarikan jalan keluarnya," kata Abu Nawas. "Tolong bawakan kambing itu masuk semuanya!"


Setelah kedua puluh tiga ekor kambing tersebut dituntun masuk istana, Abu Nawas lalu menghitung kembali jumlah kambing. Sesudah kambing itu dihitung dan benar jumlahnya 23, Abu Nawas lantas berpikir keras menemukan solusi dari masalah pelik tersebut. Tak lama kemudian, "Izinkan saya meminjam kambing baginda, seekor saja!" kata Abu Nawas.


"Nah, sekarang saatnya saya akan membagi kambing tersebut sesuai dengan porsi kalian saat perjanjian!" kata Abu Nawas setelah menambahkan kambing milik Harun al Rasyid. "Ahmad yang berhak memperoleh separuh kambing, maka boleh mengambil 12 ekor!"

"Sedangkan engkau Zulfikar yang memperoleh bagian sepertiganya, maka boleh mengambil delapan ekor!" kata Abu Nawas memerintahkan.


"Terakhir Zubair yang memperoleh bagian seperdelapannya, maka engkau berhak mengambil bagian 3 kambing. Sisa satu, karena saya tadi meminjam satu ekor kambing milik baginda, maka ini saya kembalikan lagi kambing tersebut."


Masing-masing telah mendapatkan bagiannya. Mereka pun berterima kasih dan kembali ke kediaman masing-masing. Perkara yang musykil itu akhirnya dapat ditemukan solusinya berkat kecerdasan Abu Nawas. Meskipun dalam hal ini ada yang dirugikan, namun mereka semua senang. Akhirnya Abu Nawas memperoleh hadiah uang emas dari Harun al Rasyid berkat kecerdikannya.

Kalau kalian hitung dengan teliti apakah pembagian tersebut sudah benar? Coba kalian tulis komentar di bawah ya!




Kamis, 11 November 2021

Apa itu Kartun?

Gambar kartun adalah hasil coretan buatan manusia yang menjelaskan peristiwa atau cerita. Orang yang menggambar kartun umumnya disebut kartunis. Para kartunis biasanya menggambar kartun dengan karakter-karakter lucu dan menghibur. Sebagian lagi menggambar dengan tujuan mengkritik atau menyindir. Dalam perkembangannya kartun banyak disukai oleh beragam kalangan usia dari anak-anak hingga manula. Kartun menjadi hiburan yang murah meriah. Karenanya banyak orang menyukai kartun sebagai media untuk bercerita, menyampaikan pesan-pesan tertentu, hingga menjadi ajang untuk berekspresi. 

Jepang dianggap sebagai negara yang banyak sekali membuat kartun. Bahkan dikenal dengan istilah sendiri anime. Keberhasilan Jepang dalam menyuguhkan kartun yang menarik membuatnya terus eksis hingga kini. Ide dan inovasi yang dilakukan Jepang  kini telah menyebar ke bebagai negara dan disukai oleh berbagai lapisan masyarakat.

Anime di Jepang sudah ada sejak tahun 1900-an

Munculnya tokoh Asro Boy karya Osamu Tezuka pada tahun 1950 menjadi salah satu bukti bahwa Jepang sudah sejak lama mempolulerkan seni animasi. Namun nyatanya jauh sebelum kepopuleran Astro Boy sudah banyak komikus-komikus Jepang  lainnya yang sudah berkarya lebih dulu di antaranya Junichi Kouchi, Katsudo Shasin, dan Seitarou Kitayama. Mereka dianggap sebagai para pendiri karikatur jepang alias manga. 

Kartun di Indonesia

Di Indonesia sejarah kartun juga tak bisa dipisahkan dari sejarah politik negeri saat itu. Tepatnya pada tahun 1933, banyak koran-koran lokal masa itu menampilkan iklan-iklan Walt Disney. Sehingga pada masa Pemerintahan Soekarno pada 1955 mengirimkan Dukut Hendronoto (yang dikenal dengan Pak Ook) untuk belajar seni Animasi di Walt Disney.

A set of boy and girl character images with pencil sketches

 


Jumat, 05 November 2021

INTERMEZZO

 


 

Tulisan unik di belakang truk sangat menggelitik orang yang membacanya. Terkadang bikin kita tersenyum simpul lalu berkomentar, hal ini bisa menjadi hiburan saat sesama sopir saat berada di jalan raya. Tapi tentunya para sopir harus tetap berhati-hati saat mengendara. Jangan sampai karena gambar atau tulisan aneh di belakang TRUK malah membuat konsentrasi mereka BUYAR. Nah, kalau tulisan tersebut bisa bikin mata melek saat menyupir, ya bolehlah.

Kamis, 04 November 2021

Melangkahlah ke tempat-tempat yang mulia

 

Sebagus apapun sepatu yang Anda miliki tak ada manfaatnya jika hanya satu, tanpa pasangannya. Tapi yang membuat mulia bukanlah sepatumu, tapi apa yang ada dalam hatimu.

Rabu, 03 November 2021

JIN PUN PERLU PIKNIK

 

Carut-marut masalah di negeri ini tak bisa diselesaikan dengan main-main. Ada banyak kasus yang kita rasakan setiap hari bisa jadi timbul dari kerja yang tidak fokus pada problem solving, akhirnya muncul masalah-masalan baru yang bikin ribet dan menguras energi. Coba pikirkan, bagaimana jadinya negeri ini jika setiap hari hanya dijejali omong kosong dan kebohongan. Siapa lagi yang akan menjadi korban?   

Setiap Makhluk Memiliki Kelemahannya masing-masing

 

Setiap makhluk mempunyai kapasitas kesabarannya masing-masing dalam menghadapi masalah hidup. Sabar memang mudah dikatakan, tapi sulit dilakukan. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menjalankan kesabaran, namun bukan berati kesabaranmu tidak ada artinya sama sekali. Bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. (esEnHa)

Jadilah Diri Sendiri dan Banyak Bersyukur

 

Merasa rendah diri mungkin bisa dialami oleh siapa saja dan kapan saja. Tapi ingatlah, kita tidak bisa terus-menerus hidup berada dalam kelemahan yang kita 'dramatisir' sendiri. Jangan sampai kita lupa akan kelebihan yang kita miliki selama ini. Hiduplah dengan hati besar dan penuh rasa syukur. Insya Allah beban hidupmu akan tertutupi oleh kebahagian yang kau ciptakan setiap hari. (EsEnHa)

KPop Demon Hunters: Kenali 5 Fakta Mengejutkan Tentang Film Animasi Viral 2025!

  Film Animasi K-Pop yang Sedang Jadi Fenomena Dunia KPop Demon Hunters hadir sebagai salah satu film animasi paling populer tahun ini. Di...